Si Rindu
Assalamu'alaikum warrahmatullah wabarakatuh
Bissmillahirrahmanirrahim..
Bersama tumpukan setrikaan, didampingi laprak, tiba-tiba ingin menulis. Biarlah laprak ditinggal sejenak, dengan harapan secara ajaib dia tiba-tiba selesai. Laprak, alias laporan praktikum seringnya adalah alasan bagi para mahasiswa khususnya jurusan kimia untuk tidak tidur atau pun kurang tidur. Tidak kurang tidak lebih termasuk orang yang menuliskan ini. Di tengah tumpukan lapraknya, justru mengetikkan kata demi kata disini.
>>>
Detik demi detik berlalu dengan cepat setiap harinya. Waktu kian cepat berputar, tiba-tiba 20 tahun, tidak lama 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun. Amat sangat cepat. Rasanya baru kemarin, bermain di pekarangan rumah bu haji, berlarian menuju majlis nge-tag tempat supaya dapat tempat terdepan urutan mengaji, baru kemarin rasanya mencuri jambu milik pak RT bisa naik tapi gak bisa turun dari pohonnya. Masa kecil yang penuh kenakalan. Saat itu mungkin hampir setiap hari bertemu, selesai sekolah, langsung ngibrit, main sampai sore, pulang pulang kotor, dekil, keling.
Tapi sekarang, bertemu pun sulit, bukan bertemu untuk main berjam-jam. Hanya sekedar bertukar senyum pun sulit. Bukan karena kami bermusuhan, bukan karena kami tidak peduli lagi, tapi jarak dan kesibukan masing-masing. Setiap dari kami sedang mengejar mimpi, berjuang menjadi insan yang dapat membahagiakan orang tua, mampu berguna bagi agama, bangsa dan Negara. Kami tengah berusaha mengukir senyum di bibir ibu dan bapak. Dengan peluh dan segala perjuangan di jalannya masing-masing. Lambat laun kami semakin jarang bertemu, namun baiknya adalah tekhnologi yang membantu, bukan hal sulit untuk saling bertukar kabar. Teriakan rindu ingin bertemu mungkin sering di perdengarkan, tapi kami hanya bisa pasrah dan terima. Menerima bahwa kami bukan lagi anak kecil dekil dengan segala kenakalannya, bukan lagi anak ingusan yang tetap bermain hujan-hujanan, bukan pula anak kecil yang slalu merengek minta beli mainan. Saat ini kami adalah gadis usia 19 tahun, yang tengah berjuang meraih mimpi, gadis 19 tahun dengan segala rencana rencana masa depan, gadis 19 tahun yang ingin memberikan yang terbaik baik kedua orang tua. Dan semua mimpi, dan semua asa tak akan pernah didapat dengan mudah. Banyak yang harus dikorbankan. Salah satunya adalah bertemu sahabat.
Biarlah saat ini, bertemu itu jarang, bercanda itu jarang. Tapi semua itu mendatangkan rindu. Perasaan unik namun menarik. Biarlah kita rindu, dengan rindu akan makin sayang. Biarlah rindu, ketika bertemu kita akan semakin senang. Biarlah rindu, karena rindu menguatkan ikatan. Biarlah rindu...
~Putri~
7.29 a.m.
21 Oktober 2018
Bissmillahirrahmanirrahim..
Bersama tumpukan setrikaan, didampingi laprak, tiba-tiba ingin menulis. Biarlah laprak ditinggal sejenak, dengan harapan secara ajaib dia tiba-tiba selesai. Laprak, alias laporan praktikum seringnya adalah alasan bagi para mahasiswa khususnya jurusan kimia untuk tidak tidur atau pun kurang tidur. Tidak kurang tidak lebih termasuk orang yang menuliskan ini. Di tengah tumpukan lapraknya, justru mengetikkan kata demi kata disini.
>>>
Detik demi detik berlalu dengan cepat setiap harinya. Waktu kian cepat berputar, tiba-tiba 20 tahun, tidak lama 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun. Amat sangat cepat. Rasanya baru kemarin, bermain di pekarangan rumah bu haji, berlarian menuju majlis nge-tag tempat supaya dapat tempat terdepan urutan mengaji, baru kemarin rasanya mencuri jambu milik pak RT bisa naik tapi gak bisa turun dari pohonnya. Masa kecil yang penuh kenakalan. Saat itu mungkin hampir setiap hari bertemu, selesai sekolah, langsung ngibrit, main sampai sore, pulang pulang kotor, dekil, keling.
Tapi sekarang, bertemu pun sulit, bukan bertemu untuk main berjam-jam. Hanya sekedar bertukar senyum pun sulit. Bukan karena kami bermusuhan, bukan karena kami tidak peduli lagi, tapi jarak dan kesibukan masing-masing. Setiap dari kami sedang mengejar mimpi, berjuang menjadi insan yang dapat membahagiakan orang tua, mampu berguna bagi agama, bangsa dan Negara. Kami tengah berusaha mengukir senyum di bibir ibu dan bapak. Dengan peluh dan segala perjuangan di jalannya masing-masing. Lambat laun kami semakin jarang bertemu, namun baiknya adalah tekhnologi yang membantu, bukan hal sulit untuk saling bertukar kabar. Teriakan rindu ingin bertemu mungkin sering di perdengarkan, tapi kami hanya bisa pasrah dan terima. Menerima bahwa kami bukan lagi anak kecil dekil dengan segala kenakalannya, bukan lagi anak ingusan yang tetap bermain hujan-hujanan, bukan pula anak kecil yang slalu merengek minta beli mainan. Saat ini kami adalah gadis usia 19 tahun, yang tengah berjuang meraih mimpi, gadis 19 tahun dengan segala rencana rencana masa depan, gadis 19 tahun yang ingin memberikan yang terbaik baik kedua orang tua. Dan semua mimpi, dan semua asa tak akan pernah didapat dengan mudah. Banyak yang harus dikorbankan. Salah satunya adalah bertemu sahabat.
Biarlah saat ini, bertemu itu jarang, bercanda itu jarang. Tapi semua itu mendatangkan rindu. Perasaan unik namun menarik. Biarlah kita rindu, dengan rindu akan makin sayang. Biarlah rindu, ketika bertemu kita akan semakin senang. Biarlah rindu, karena rindu menguatkan ikatan. Biarlah rindu...
~Putri~
7.29 a.m.
21 Oktober 2018
Komentar
Posting Komentar